***
Siang ini
membaca tulisan seorang kawan
dan aku ingat ibnul jauzy
***
“andai seseorang berma’shiat”, kata beliau
“disebab syahwat
aku masih punya harapan tinggi
bahwa Allah akan mengampuni
tapi dia yang sombong dan keras kepala
berdosa dan merasa diri baik-baik saja
aku takut..”
***
“sebab adam dan hawa
berma’shiat karena syahwatnya
dan Allah mengampuni mereka
sebab iblis berdosa dan durhaka
karena sombongnya
dan ia dilaknat sepanjang masa.”
***
aku lalu menangis..
membaca ayatNya terasa begitu miris
“maukah kukabarkan padamu tentang ia yang paling merugi ‘amalnya?”
andai boleh ya Allah, aku tak ingin tahu
karena aku takut, aku termasuk di situ
tapi Engkau telah berfirman,
“yaitu orang yang telah sesat upayanya dalam kehidupan dunia,
lalu dia menyangka bahwa dia telah berbuat sebaik-baiknya.”
***
semoga tiap langkahku ya Allah
tidak sedang menyuruk ke sana
karena aku tahu
dalam tiap dosaku
tersimpan bahaya
saat aku memakluminya, menganggapnya biasa
***
hukuman terbesar atas ma’shiat adalah kebas hati
perasaan tanpa salah, yang membuat tenang
untuk terus berkubang dalam dosa
maka berbahagialah dia yang masih punya gelisah
atas dosanya
setidaknya masih ada iman di sana, yang sedang terluka
***
—- Salim A. Fillah
Enam pertanyaan diajukan oleh Imam Al-Ghazali saat berkumpul dengan murid-muridnya pada suatu hari.
Pertanyaan Kesatu.
Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : “Orang tua”
Murid 2 : “Guru”
Murid 3 : “Teman”
Murid 4 : “Kaum kerabat”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita
ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati
( Surah Ali-Imran :185).
Pertanyaan Kedua.
Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : “Negeri Cina”
Murid 2 : “Bulan”
Murid 3 : “Matahari”
Murid 4 : “Bintang-bintang”
Iman Ghazali “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA
LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.
Pertanyaan Ketiga.
Iman Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : “Gunung”
Murid 2 : “Matahari”
Murid 3 : “Bumi”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
Pertanyaan Keempat.
IMAM GHAZALI : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : “Baja”
Murid 2 : “Besi”
Murid 3 : “Gajah”
Imam Ghazali : “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
Pertanyaan Kelima.
Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid 1 : “Kapas”
Murid 2 : “Angin”
Murid 3 : “Debu”
Murid 4 : “Daun-daun”
Imam Ghazali : “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “
Pertanyaan Keenam.
Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab : “Pedang”
Imam Ghazali : “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri ”
Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua…
(via fallenscholar)
“long road to heaven”
octopus
kodak colorplus 200 (redscale)
harish kerenlah sumpeh
keren pisan o_o
Suatu ketika, di sebuah lereng, tersebutlah seonggok sarang Elang. Di dalamnya terdapat 6 butir telur yang sedang dierami induknya. Suatu hari, terjadi sebuah gempa kecil dan mengakibatkan sebutir telur mengelinding ke bawah. Namun, induk Elang tak mengetahui hal itu. Untunglah, telur itu kuat, sehingga kemudian benda itu malah masuk ke dalam sebuah sangkar ayam. Seekor induk ayam yang sedang mengeram, lalu malah memasukkan telur itu ke dalam buaian bersama telur-telur ayam lainnya.
Beberapa saat kemudian, menetaslah telur itu, dan keluarlah seekor anak Elang yang gagah. Namun, sayangnya, ia dilahirkan di tengah keluarga ayam. Lama kemudian Elang kecil itu, tumbuh bersama anak-anak ayam lainnya. Dan si Elang kecil itupun percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai sangkar dan induk ayam, namun, ada keinginan lain di hati kecilnya.
Elang kecil itu, suatu ketika, melihat elang-elang besar yang sedang mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa. Ia kagum sekali dengan kegagahan mereka. “Oh,”…Elang kecil itu memekik, “Andai saja, aku bisa terbang seperti burung-burung gagah itu.” katanya sambil menatap langit. Anak-anak ayam lain tertawa mencericit. “Ha ha ha…kamu tak akan bisa terbang bersama mereka, ” ujar seekor anak ayam, “Kamu adalah ayam, dan ayam tak bisa terbang!” Hahahaha….. Tawa anak-anak ayam itu kembali memenuhi telinga si Elang kecil. “Oh, andai saja…” ujarnya pelan. Elang kecil itu kembali menatap langit. Menatap keluarga yang sebenarnya di atas sana.
Setiap waktu, saat Elang itu mengungkapkan impiannya, ia selalu diberi nasehat, bahwa itu adalah hal yang mustahil yang bisa dilakukannya. Dan hal itulah yang terus dipelajari oleh si Elang, bahwa, ia tak mungkin bisa terbang, dan mengepakkan sayapnya di angkasa. Lama kemudian, si Elang berhenti bermimpi, dan melanjutkan hidupnya sebagai ayam biasa. Akhirnya, setelah sekian lama hidup menderita, dikekang dengan semua impiannya, si Elang pun mati.
~Author Unknown~
Sahabatku, ini adalah sebuah amsal yang baik tentang kehidupan. Ini, adalah sebuah permisalan yang indah tentang makna harapan dan impian-impian. Ada banyak sekali asa dan hasrat, yang akhirnya pupus, karena, hilangnya rasa percaya dalam kalbu. Ada banyak sekali harapan-harapan, yang hilang, hanya karena kita tak percaya dengan semua kemampuan yang kita miliki.
Sahabatku, kita semua adalah Elang-Elang kecil, yang —bisa jadi— lahir dalam buaian ayam. Kita semua adalah manusia-manusia hebat, yang punya banyak potensi. Allah berikan banyak anugrah buat kita, namun, seringkali, rasa percaya diri itu begitu kecil, tak mampu membuat kita yakin, bahwa kita mampu, bahwa kita bisa. Allah berikan banyak sekali rahmat, namun seringkali itu semua itu tak membuat kita makin bersyukur, dan mau menjadikannya sebagai pendorong dalam hati.
Sahabatku, kita akan menjadi apa yang kita percayai. Jadi, saat kita bermimpi untuk menjadi “elang”, teruskan impian tadi, dan coba, abaikan dulu nasehat “ayam-ayam” itu. Karena siapa tahu, kita adalah calon “elang-elang” yang akan lahir dan mengepakkan sayap dengan indah di angkasa.